MACAM-MACAM BATIK

MACAM-MACAM

BATIK DI INDONESIA

 

 

I. Arti dan Cara membuat Batik

     Arti kata batik:  para sarjana ahli seni rupa, baik yang berkebangsaan Indonesia maupun yang bangsa asing, belum mencapai kata sepakat tentang apa sebenarnya arti kata batik itu.   Ada yang mengatakan bahwa sebutan batik berasal dari kata tik yang terdapat di dalam kata titik.  Titik berarti juga tetes.  Memang di dalam membuat kain batik dilakukan pula penetesan lilin di atas kain putih.  Ada juga yang mencari asal kata batik di dalam sumber-sumber tertulis kuno.  Menurut pendapat ini, kata batik dihubungkan dengan kata tulis atau lukis.  Dengan demikian, asal mula batik dihubungkan pula dengan seni lukis dan gambar pada umumnya. . Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

               Cara membatik:   alat untuk membatik ialah canting.  Terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bercerat atau bermulut, canting ini berfungsi seperti sebuah pulpen.  Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagain bahan penutup atau perlindung terhadap zat warna.  Sebelum pembatik melelehkan lilin di kain putih, banyak langkah yang harus dilalui dulu oleh kain itu.  Perkerjaan persiapan berupa pencelupan dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, gunanya untuk memudahkan lilin melekat dan zat warna meresap.

      Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu.  Pada taraf yang penghabisan lilin dibuang dengan merebus kain dalam air mendidih.  Sesudah itu kain batik keluar dengan warna-warnanya yang indah serta pola-polanya yang terpilih. Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia,MalaysiaThailandIndiaSri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

 

 

 

II. Motif-Motif Baik Indonesia Dan Maknanya        

 

 

Motif-motif batik Indonesia yang sudah ada sejak turun-temurun masing-masing memiliki makna dan peruntukan tersendiri :

1. Motif Parang

motif diagonal bersudut 45 drajat. Diantara 2 deret parang diisi dengan motif mlinjon. Mlinjon berasal dari kata melinjo (biji pohon Eso/Gnetum gnemon) yang merupakan bahan mentah emping.
Parang berasal dari kata pereng atau tebing/lereng dan juga berarti senjata. Menurut sejarah, motif parang tercipta ketika Raja Mataram berkelana dan menemukan tebing untuk bertapa. Dulu kain bermotif parang hanya boleh digunakan untuk kerabat keraton.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.  Motif Berawalan Sida

Motif sida  mengandung harapan untuk mendapatkan kasih sayang dari sesama. Kain bermotif sida asih biasanya dipakai untuk upacara tradisional Jawa: Mitoni (7 bulanan), kelahiran, akad nikah, dan kematian.
Sida Mulya bermakna kemakmuran dan melindungi tanah air, bumi yang dipijak.

 

 

 

 

3. Motif Truntum – Kawung

setau sy motif truntum ini khas jogja,Motif truntum yang diciptakan oleh permaisuri Sunan Paku Buwana III (kanjeng Ratu Kencana) bermakna cinta yang tumbuh kembali. Kain bermotif truntum biasa dipakai dalam upacara pernikahan.
Motif kawung berasal dari bentuk buah kawung (buah pohon aren atau kolang-kaling) tp  ada pula anggapan bahwa kawung adalah bunga teratai yang melambangkan umur panjang dan kesucian.

 

 

 

 

4. Motif Pringgodani atau pringgondani ? saya agak lupa tulisannya

Pringgondani adalah sebuah nama kerajaan tempat asal Gatotkaca (putra Bima-saudara tengah keluarga Pandawa dalam cerita Wayang Kulit Purwa). Motif Pringgondani termasuk kelompok pola Semen dan pola non geometris.
Motif Pringgondani biasanya ditampilkan dalam warna-warna gelap seperti biru indigo (biru nila) dan soga coklat, serta penuh sulur-sulur kecil yang diselingi dengan naga.

 

 

 

 

 

5. Motif Wahyu Tumurun

Motif Wahyu Tumurun melukiskan anugerah (wahyu) Tuhan YME. Kain bermotif wahyu tumurun dipakai untuk upacara tradisional Jawa: Mitoni (7 bulanan), siraman (pembersihan badan pengantin sebelum pernikahan), dan akad nikah

 

 

 

6. Motif Garuda

Garuda adalah burung yang melambangkan kesaktian. Motif ini merupakan salah satu motif klasik yang memiliki banyak nama khusus, salah satunya Semen Rama yang mengandung Hasta Brata (delapan ajaran dalam agama Hindu). Kain bermotif garuda biasanya dipakai untuk menghadiri upacara pernikahan.

 

 

 

 

 

7. Motif Ceplok

bukan batik bermotif telor tapi  motif batik yang berisi bentuk-bentuk bunga, buah, daun, binatang, dan variasinya yang terletak dalam bidang-b idang geometris (segi empat, lingkaran, dll).

 

 

 

 

 

 

8. Motif Semen

Motif semen berasal dari kata semi, yang berarti tumbuh atau bersemi dari dalam tanah, dan tanah merupakan bagian dari gunung. Dalam Hasta Brata gunung tertinggi adalah Mahameru yang melambangkan keadilan. Contoh motif semen adalah Adi Luhung.

 

 

 

 

 

 

 

 

9. Motif Batik Yogyakarta

Yogya memiliki kesamaan dengan Solo, Yogya mempunyai tradisi dan adat istiadat kraton dan batik Yogya juga memiliki lambang-lambang simbolis yang erat hubunganya dengan falsafah Hindu Jawa, walaupun motif batik Yogya tidak memiliki arti simbolis sebanyak Solo. Kadang batik Yogya mempunyai nama yang sama dengan batik Solo namun ternyata penampilannya berbeda, seperti ragam hias semen rama.

Yogya mempunyai motif dengan isen–isen khas dan ukel cantel, ukel tutul dan ukel monte. Batik Yogya juga memiliki banyak motif nitik, seperti nitik jaarbeurs. Jaarbeurs adalah nama yang diberikan oleh juragan batik H.Bilal pada motif ini a karena ragam hias tersebut mendapat penghargaan dalam pekan raya Jaarbeurs di zaman kolonialisme Belanda. Motif khas Yogya yang lain adalah kawung semar, kawung beton, perang wenang, werkudoro dan keong sri, tambal kitiran, udan liris.

Motif batik Yogya yang memiliki makna simbolis antara lain adalah motif grompol, arti katanya adalah berkumpul atau bersatu, kain motif ini biasanya digunakan pada acara perkawinan, dengan harapan berkumpulnya segala sesuatu yang baik-baik, seperti rezeki, kebahagiaan, dan lain-lain.

Ragam hias tambal mempunyai arti kata menambah atau memperbaiki sesuatu yang kurang, yang kemudian diharapkan dapat membantu menyehatkan si pemakai yang sakit dan juga agar dapat menolak bahaya.

Yogya juga memiliki batik yang bermotif berdasarkan alam desa sekitarnya yang dibuat di desa Bantul. Sedangkan batik masyarakat Cina di Yogya salah satunya adalah menggunakan motif parang wenang, dengan latar belakang putih bersih. [Olin/Sumber Gambar Batik: Sukma Jawa - de ziel van Java - the soul of Java by Fred W. van Oss (1996)]

 

About these ads

Posted on Agustus 11, 2011, in Pengetahuan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: